![]() |
| Russia and Ukraine Flags. (Alexander/TASS) |
JAKARTA - Dunia internasional kembali menaruh perhatian besar pada upaya penghentian konflik di Eropa Timur setelah putaran kedua negosiasi trilateral antara Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina digelar di Abu Dhabi pada awal Februari 2026. Meskipun atmosfer pertemuan tersebut dinilai positif oleh para mediator, hingga saat ini perdamaian permanen yang mengakhiri seluruh pertempuran secara resmi belum tercapai sepenuhnya.
Melansir AP, Jumat (9/2), Zelensky menyatakan, jika tenggat waktu itu tidak terpenuhi, Trump kemungkinan akan menekan kedua belah pihak untuk segera memenuhinya. Delegasi Rusia dan Ukraina juga telah telah diundang untuk pembicaraan lebih lanjut minggu depan.
Kemajuan Konkret di Meja Runding
Salah satu terobosan paling nyata dari perundingan tertutup di Uni Emirat Arab ini adalah tercapainya kesepakatan mengenai pertukaran 314 tawanan perang dari kedua belah pihak. Langkah kemanusiaan ini dipandang oleh para analis sebagai sinyal bahwa kedua pihak masih memiliki ruang komunikasi diplomatik yang terbuka di tengah gempuran militer yang terus berlangsung di garis depan.
Media resmi ANTARA News melaporkan bahwa pembicaraan tersebut berjalan produktif namun tetap berada dalam kerahasiaan tinggi demi menjaga stabilitas proses diplomasi.
Meski ada kemajuan dalam isu kemanusiaan, persoalan inti mengenai wilayah tetap menjadi batu sandungan utama yang belum terpecahkan. Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan masih berpegang pada tuntutan agar Ukraina mengakui wilayah-wilayah yang saat ini diduduki oleh pasukan Rusia sebagai bagian dari kesepakatan final.
Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dengan tegas menyatakan dalam konstitusinya bahwa integritas wilayah Ukraina tidak dapat ditawar, termasuk kedaulatan atas wilayah Donbas dan Krimea. Laporan dari The New York Times menunjukkan bahwa meskipun masyarakat Ukraina mulai menunjukkan tanda kelelahan akibat perang, mayoritas tetap menolak penyerahan wilayah tanpa adanya jaminan keamanan internasional yang sangat kuat.
Tekanan Diplomatik dan Peran NATO
Pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump telah menetapkan target ambisius agar kesepakatan damai dapat ditandatangani selambat-lambatnya pada Juni 2026.
Sebagai bentuk dukungan terhadap stabilitas pasca-perang, Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, telah menyatakan di hadapan Parlemen Ukraina bahwa aliansi tersebut siap mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke wilayah Ukraina segera setelah kesepakatan damai yang sah tercapai.
Pernyataan ini diperkuat oleh laporan Tempo.co yang menyebutkan bahwa kehadiran pasukan internasional menjadi salah satu opsi untuk mencegah invasi ulang di masa depan.
Ironisnya, sementara para diplomat berunding di Abu Dhabi, situasi militer di lapangan justru tetap memanas. Rusia masih terus melakukan serangan intensif terhadap infrastruktur energi Ukraina menggunakan ratusan pesawat nirawak dan rudal, yang menyebabkan pemadaman listrik massal di berbagai wilayah.
Konflik ini, yang telah berlangsung hampir empat tahun, telah mengakibatkan jutaan orang mengungsi dan menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di Eropa dalam beberapa dekade terakhir. Upaya perdamaian ini kini berpacu dengan waktu sebelum eskalasi militer lebih lanjut semakin memperumit posisi tawar kedua belah pihak di meja perundingan. (WIB)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda