![]() |
| Trump Visit China 2026. (The Jakarta Post) |
JAKARTA - Ketika roda pesawat Air Force One menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Ibu Kota Beijing pada pertengahan Mei 2026, dunia kembali menyaksikan gaya diplomasi panggung khas Donald Trump. Langkah kaki Trump di Tiongkok menegaskan kembalinya formula geopolitik yang sangat ia kuasai: memadukan gertakan tarif ekonomi, tekanan militer, dan negosiasi bisnis langsung face-to-face dengan para pemimpin dunia. Kunjungan kenegaraan kedua kalinya ke Beijing ini menjadi babak baru yang krusial dalam hubungan AS-Tiongkok di tengah memanasnya situasi global.
Menurut laporan utama CNN Politics, salah satu agenda paling mendesak yang dibawa Trump dalam pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping adalah meredam bara api konflik di Timur Tengah, khususnya terkait peran Iran. Sebagai salah satu konsumen minyak terbesar Iran, Tiongkok memegang kartu truf ekonomi yang bisa memaksa Teheran melunak. Trump datang dengan misi jelas: meminta Xi menggunakan pengaruh diplomatiknya untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi jalur dagang dunia, sekaligus menekan Iran agar menghentikan ambisi riset nuklirnya.
Meskipun Trump dengan cepat mengklaim pertemuan dua harinya tersebut sebagai "momen bersejarah," analisis mendalam dari Reuters menunjukkan hasil yang jauh lebih bernuansa. Alih-alih kesepakatan besar yang mengubah peta politik global, pertemuan tersebut justru berakhir pada titik buntu yang stabil (stable stalemate). Beijing tetap pada prinsipnya menentang sanksi sepihak AS terhadap Iran dan lebih mendorong mediasi damai melalui pihak ketiga. Namun, bukan Trump namanya jika pulang dengan tangan kosong. Di balik layar, diplomasi "kasih dan terima" (give-and-take) tetap berjalan di sektor bisnis riil.
![]() |
| Top U.S. Executives Travel to China with Trump. (LA Times) |
Hal paling menarik dari kunjungan Mei 2026 ini adalah rombongan yang dibawa Trump baik yang bersamanya satu pesawat Air Force One maupun mereka yang datang dengan pesawat pribadi mulai dari Elon Musk (Tesla), Tim Cook (Apple), hingga Jensen Huang (Nvidia). Kehadiran mereka membawa hasil konkret yang langsung terasa di lantai bursa. AS setuju memberikan lampu hijau pelonggaran sanksi ekspor chip kecerdasan buatan (AI) canggih Nvidia H200 ke beberapa korporasi besar Tiongkok, seperti Tencent dan ByteDance. Sebagai gantinya, Tiongkok melunakkan posisinya dengan berkomitmen membeli 200 unit pesawat komersial dari Boeing—meski angka ini sebenarnya masih di bawah target awal industri penerbangan AS.
Di sektor domestik, kesepakatan pengetatan pasokan bahan baku zat kimia fentanyl dari Tiongkok menjadi poin kemenangan politik yang dipamerkan Trump untuk konstituennya di dalam negeri. Dampak dari pengumuman ini langsung terasa di pasar finansial dunia. Indeks saham di Wall Street maupun Hong Kong merespons positif pencairan ketegangan teknologi ini, yang membuktikan bahwa pasar global sangat sensitif terhadap kepastian regulasi rantai pasok. Komitmen Tiongkok untuk meningkatkan pembelian komoditas pertanian AS senilai puluhan miliar dolar dalam tiga tahun ke depan juga memberikan angin segar bagi sektor agrikultur Amerika yang sempat tertekan akibat isu perang dagang berkepanjangan pada awal tahun.
![]() |
| Trump International Travel. (The Tribune) |
Gaya pragmatis dan transaksional seperti ini sebenarnya bukan barang baru bagi Trump. Jika kita menengok catatan sejarah perjalanan luar negerinya yang dirilis dalam Wikipedia, Trump secara konsisten merombak pakem diplomasi tradisional AS sejak masa jabatan pertamanya (2017–2021). Pada tahun 2017, ia memecahkan tradisi dengan memilih Arab Saudi sebagai destinasi luar negeri pertamanya, bukan Kanada atau Meksiko seperti para pendahulunya. Sepanjang periode pertama, ia tercatat melakukan 19 perjalanan internasional ke 25 negara, termasuk kunjungan legendaris ke Singapura (2018) dan melangkah melewati batas garis demiliterisasi (DMZ) ke Korea Utara (2019) untuk menemui Kim Jong Un. Kunjungan-kunjungan tersebut selalu diwarnai ketegangan tinggi namun diakhiri dengan tontonan visual drama politik yang memikat media.
Memasuki masa jabatan keduanya yang dimulai pada Januari 2025, intensitas perjalanan luar negeri Trump tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Hingga Mei 2026, ia tercatat telah melakukan 10 kunjungan internasional ke 15 negara. Langkah pertamanya di periode kedua dibuka dengan menghadiri upacara pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan, disusul kunjungan kenegaraan akbar menemui Raja Charles III di Inggris, serta serangkaian safari politik ke negara-negara Teluk seperti Qatar dan UEA untuk mempromosikan pendekatan realis Amerika.
![]() |
| Xi and Trump Meet in Beijing. (Council on Foreign Relations) |
Kunjungan ke Beijing kali ini memperlihatkan evolusi taktik Trump. Jika pada periode pertamanya ia kerap menggunakan tarif dagang sebagai palu gada untuk menekan lawan, kini ia tampak lebih sadar akan keterbatasan sanksi sepihak dalam menghadapi kekuatan ekonomi Tiongkok yang tangguh. Analisis dari lembaga pemikir Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebutkan bahwa Beijing kini jauh lebih percaya diri untuk berdiri sejajar dan berkata "tidak" pada tuntutan-tuntutan tertentu AS. Namun, kesediaan Xi Jinping menerima Trump dalam format kunjungan kenegaraan penuh menunjukkan bahwa kedua raksasa ini sama-sama membutuhkan stabilitas prediktif demi menjaga ekonomi domestik masing-masing.
Pada akhirnya, babak baru hubungan kedua negara ini belum selesai ditulis. Pertemuan di Beijing hanyalah pembuka dari negosiasi panjang yang melelahkan. Sinyal kelanjutan dari mencairnya hubungan ini sudah dijadwalkan, di mana Trump secara resmi telah melayangkan undangan kepada Xi Jinping untuk melakukan KTT lanjutan di Gedung Putih, Washington, pada September mendatang. Pertemuan lanjutan tersebut diproyeksikan akan membahas isu-isu yang tertunda, termasuk kontrol ekspor logam tanah jarang (rare earths) yang masih ditahan oleh pihak Beijing. Bagi publik global, diplomasi Trump mungkin terasa seperti panggung pertunjukan yang penuh ketidakpastian; namun bagi sang presiden, ini hanyalah cara kerja biasa dari sebuah seni kesepakatan dagang (the art of the deal) di panggung tertinggi dunia. (WIB)




Komentar
Posting Komentar
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda