Ofensif Kilat Houthi Kuasai Bab al-Mandab, Tekan Arab Saudi, dan "Uji Nyali" Pakta Makkah

 

Yaman Civil War. (Khaama Press)

 

JAKARTA - Eskalasi militer di Yaman kembali mencapai titik kritis pasca-runtuhnya gencatan senjata sekian lama. Dalam 72 jam terakhir, kelompok Ansar Allah (Houthi) meluncurkan operasi ofensif kilat di sepanjang pesisir Laut Merah yang berhasil mengubah peta kekuatan di lapangan secara dramatis. Bersamaan dengan itu, perang psikologis dan banjir disinformasi melanda ruang digital, menguji ketahanan militer Arab Saudi serta kredibilitas pakta pertahanan regional yang baru seumur jagung.

Laporan taktis dari pemetaan konflik terverifikasi (Liveuamap) mengonfirmasi bahwa militer Houthi telah mencatat kemenangan teritorial yang signifikan. Menggunakan kombinasi serangan infanteri gelombang besar dan dukungan artileri berat, kelompok Houthi berhasil merebut seluruh garis pantai daratan rendah di pesisir barat Yaman.

Dua titik paling krusial yang jatuh ke tangan Houthi adalah kota pelabuhan strategis Mokha (Mocha) dan Pulau Perim (Mayun). Pulau Perim merupakan wilayah berbentuk pulau vulkanik yang terletak tepat di celah sempit Selat Bab al-Mandab. Dengan jatuhnya pulau ini, Houthi secara de facto memegang kendali atas "pintu gerbang" maritim yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Bersamaan dengan runtuhnya lini pertahanan tersebut, Houthi berhasil merebut empat lapangan terbang taktis (airfields) lokal di sepanjang garis pantai tersebut. Lapangan terbang ini sebelumnya digunakan oleh pasukan darat untuk pasokan logistik helikopter dan pesawat kargo ringan. Investigasi lapangan dari BBC Verify bahkan menunjukkan visual milisi Houthi yang telah menduduki terminal luar lapangan terbang lokal tersebut.

Namun, keberhasilan Houthi di lapangan segera diikuti oleh kampanye disinformasi masif di media sosial. Narasi yang sengaja diembuskan oleh akun-akun propaganda menyebutkan bahwa Houthi berhasil menguasai empat pangkalan udara utama di dalam teritorial Arab Saudi hanya dalam waktu 24 jam. Klaim tersebut juga disertai video yang memperlihatkan puluhan Kendaraan Tempur (Ranpur) canggih yang dijarah, dengan narasi bahwa tiga brigade tentara nasional reguler Arab Saudi telah runtuh moralnya dan menyerah tanpa perlawanan.

Hoaks Daur Ulang Operasi 2019, Respons Agresif Riyadh dan Perang Rudal Lintas Batas 

Berdasarkan verifikasi mendalam dari berbagai lembaga pemantau independen dan jurnalis internasional, klaim mengenai runtuhnya tiga brigade reguler tentara Arab Saudi terbukti sebagai disinformasi berat hasil daur ulang (recycling hoaxes).

Narasi dan dokumentasi video yang beredar di platform digital tersebut merupakan rekaman lama dari operasi "Operation Victory from God" yang terjadi pada September 2019 di wilayah perbatasan Najran. Kala itu, investigasi media internasional seperti BBC News telah menegaskan bahwa rekaman video sepihak dari Houthi gagal membuktikan kejatuhan brigade resmi Arab Saudi. Mayoritas yang terjebak dalam lembah perbatasan tersebut adalah milisi lokal Yaman rekrutan baru, bukan unit infanteri reguler Saudi.

Pada pertempuran pesisir barat saat ini, pasukan yang terpaksa mundur dari Mokha dan Dhubab bukanlah tentara nasional Arab Saudi, melainkan unit-unit militer lokal di bawah kendali Pemerintah Yaman yang sah (Dewan Kepemimpinan Presiden/PLC). Kehilangan sejumlah ranpur memang terjadi secara taktis akibat mundurnya pasukan PLC yang terburu-buru, namun skalanya tidak masif dan tidak melibatkan armada tempur utama milik Angkatan Darat Kerajaan Arab Saudi.

Alih-alih kehilangan moril seperti yang diklaim dalam narasi propaganda, Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi (RSAF) langsung mengambil tindakan militer mandiri secara masif. Menolak menunggu koordinasi politik yang panjang, jet-jet tempur Arab Saudi langsung diturunkan dari Pangkalan Udara King Khalid (Khamis Mushait) dan King Fahd (Taif).

Dalam kurun waktu singkat, Saudi meluncurkan lebih dari 120 serangan udara (airstrikes) ke kantong-kantong kekuatan Houthi di Provinsi Al-Jawf, Taiz, Marib, dan Hodeidah. Pengeboman udara ini bertujuan memutus jalur logistik Houthi yang sedang bergerak memperkuat posisi mereka di Mokha.

Saling serang ini segera meluas menjadi perang rudal lintas batas. Houthi merespons pengeboman udara Saudi dengan menembakkan puluhan rudal balistik jarak pendek dan drone bunuh diri (kamikaze) jauh ke dalam wilayah domestik Arab Saudi. Target utama mereka adalah infrastruktur vital di wilayah selatan Saudi, termasuk bandara sipil di Abha, Jazan, dan Najran, serta kompleks penyulingan minyak mentah milik perusahaan negara, Aramco. Serangan udara Houthi ini dilaporkan melukai sedikitnya 73 orang dan memicu kepulan asap di beberapa fasilitas energi taktis Saudi.

Mengapa CENTCOM Menolak Serangan Langsung?

Di tengah eskalasi yang kian membara, dinamika hubungan antara Riyadh dan Washington mengalami ujian baru. Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), dilaporkan telah melayangkan permintaan resmi sebanyak dua kali kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, agar militer AS melakukan intervensi udara langsung (direct kinetic strikes) guna menggempur posisi Houthi di Yaman.

Namun, permintaan tersebut ditolak oleh Pentagon. Komando Pusat AS (US CENTCOM) saat ini memilih memfokuskan sebagian besar armada tempur laut dan udaranya untuk mengelola potensi perang terbuka dengan Iran di kawasan Teluk Oman dan Selat Hormuz. Pertempuran maritim antara AS dan Iran yang berujung pada saling tembak rudal membuat CENTCOM enggan memecah konsentrasi militernya secara langsung ke palagan Yaman.

Kendati menolak meluncurkan bom secara langsung, CENTCOM tidak tinggal diam. Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, segera terbang ke Riyadh melakukan pertemuan darurat dengan komando militer Saudi. Langkah konkret yang diambil Washington adalah membuka akses pembagian intelijen taktis penuh (real-time targeting assistance). 

Seperti yang dilaporkan oleh Al Arabiya English, satelit militer dan radar pengintai CENTCOM kini mengalirkan data koordinat pergerakan peluncur rudal Houthi secara langsung ke sistem kokpit jet tempur Arab Saudi, menjadikan serangan udara RSAF jauh lebih presisi. Lebih dari 200 personel non-kinetik AS dikabarkan telah disiagakan di pos komando gabungan untuk mendukung kelancaran aliran informasi ini.

Analisis Dampak Ekonomi Global: Blokade Dua Celah Energi

Jatuhnya Mokha dan Pulau Perim menciptakan skenario terburuk bagi pasar komoditas global: double choke point atau penyumbatan dua celah energi maritim sekaligus di Timur Tengah. Ketika Selat Hormuz telah diblokade akibat perang langsung AS-Iran, Selat Bab al-Mandab sempat menjadi satu-satunya jalur alternatif bagi Arab Saudi untuk mengalirkan pasokan minyak mentahnya dari kilang timur menuju pelabuhan barat lewat pipa darat East-West. Kini, jalur alternatif tersebut berada di bawah ancaman langsung Houthi.

Dampaknya langsung terasa instan di bursa komoditas. Harga minyak mentah dunia jenis Brent meroket tajam melampaui $107 per barel, mencatatkan lonjakan harian hingga 6,34% tak lama setelah bendera Houthi berkibar di Mokha. Lonjakan ini memicu kepanikan massal di bursa saham Asia, dengan indeks Nikkei 225 Jepang dan bursa Seoul ambles lebih dari 2% akibat ketakutan akan krisis energi global baru.
Bagi industri pelayaran internasional, jalur Laut Merah yang memfasilitasi sekitar 12% perdagangan dunia kini menjadi zona terlarang. Premi asuransi perang untuk kapal kargo yang nekat melintas melonjak hingga tingkat yang tidak masuk akal. Akibatnya, raksasa pelayaran internasional memilih mengalihkan rute kapal tanker mereka memutar jauh ke selatan benua Afrika menembus Tanjung Harapan.

Pengalihan rute memutar ini menambah waktu perjalanan maritim selama 10 hingga 14 hari ekstra serta membakar biaya bahan bakar tambahan senilai jutaan dolar per perjalanan. Para analis ekonomi dari Bloomberg dan Reuters memperingatkan bahwa keterlambatan logistik massal ini akan segera memicu gelombang inflasi global baru pada kuartal akhir tahun ini, meningkatkan harga barang-barang manufaktur dan tarif listrik di Eropa serta Amerika Utara secara signifikan jika stabilitas keamanan maritim gagal dipulihkan dalam beberapa pekan ke depan.

Menakar Kekuatan Pakta Makkah

Di tengah kepungan krisis, harapan pemulihan stabilitas regional kini disandarkan pada Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah (Pakta Makkah) yang ditandatangani secara mendadak pada 7 Agustus 2026 di kota suci Makkah. Ditandatangani langsung oleh Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, aliansi ini dibentuk untuk mengisi kekosongan peran keamanan maritim Barat yang mulai goyah.

Secara historis dan struktural, Pakta Makkah mengadopsi cetak biru kolektif yang serupa dengan Pasal 5 NATO, yakni prinsip bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu negara penandatangan akan dianggap sebagai agresi terhadap ketiga negara sekaligus. Aliansi ini dirancang dengan pembagian peran komplementer yang sangat strategis:
• Arab Saudi bertindak sebagai penyedia dana utama (financial backing) serta penyedia ruang geografis pangkalan udara strategis.
• Turkiye berkontribusi melalui basis industri pertahanan teknologi tingkat tinggi (deep-tech), menyuplai armada drone tempur canggih, alutsista elektronik, dan kapal perang modern.
• Pakistan menyeimbangkan aliansi dengan menyediakan sumber daya manusia militer garis depan (manpower) yang sangat terlatih serta memiliki kartu truf berupa pencegahan nuklir strategis.

Berdasarkan analisis kekuatan militer terintegrasi dari Al Jazeera, jika dikombinasikan, Pakta Makkah menguasai lebih dari 1,4 juta personel aktif, 3.415 pesawat tempur, dan total anggaran pertahanan tahunan kolektif mencapai $124,4 miliar. Pertemuan tindak lanjut tingkat menteri pertahanan yang digelar di Istanbul pada 31 Agustus bahkan telah meresmikan pembentukan Sekretariat Permanen aliansi yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal asal Pakistan untuk mempercepat integrasi taktis ini.

Daftar Alutsista yang Terlibat: Benturan Teknologi Udara

Pertempuran lintas batas antara Arab Saudi dan Houthi telah berkembang menjadi ajang pembuktian efektivitas sistem persenjataan modern melawan taktik perang asimetris berbiaya rendah. Di lini pertahanan udara, Arab Saudi mengandalkan jaringan perlindungan berlapis yang disuplai oleh Amerika Serikat:
1. MIM-104 Patriot (PAC-3): Sistem rudal permukaan-ke-udara utama milik Arab Saudi ini bertindak sebagai perisai penangkis andalan untuk menghancurkan rudal balistik taktis Houthi sebelum memasuki wilayah udara kota sipil. PAC-3 menggunakan teknologi hit-to-kill yang menghancurkan hulu ledak musuh lewat benturan kinetik langsung di udara.
2. THAAD (Terminal High Altitude Area Defense): Digunakan untuk mencegat rudal balistik jarak menengah pada fase akhir penerbangan (terminal phase) di luar atau tepat di dalam atmosfer bumi, memberikan perlindungan area yang lebih luas bagi fasilitas Aramco di wilayah timur dan selatan.

Di seberang kubu pertahanan, milisi Houthi mengerahkan alutsista berdaya rusak tinggi yang disuplai lewat komponen selundupan dari industri militer Iran:
1. Rudal Balistik Kelas Burkan (Burkan-3 / Zulfiqar): Rudal balistik berbahan bakar cair dengan jangkauan lebih dari 1.000 kilometer. Rudal ini memiliki hulu ledak yang dapat memisahkan diri pada fase akhir penerbangan, dirancang khusus untuk menyulitkan pelacakan radar Patriot Saudi.
2. Drone Kamikaze Samad-3 & Wahed: Drone dengan sayap lebar berbiaya produksi murah namun memiliki jarak tempuh yang cukup jauh untuk menjangkau kilang minyak Jazan. Drone ini terbang pada ketinggian sangat rendah demi menghindari deteksi radar pertahanan konvensional.

Pertempuran udara ini menguras ongkos ekonomi yang tidak seimbang; sebuah rudal pencegat Patriot PAC-3 milik Saudi dihargai sekitar $3 juta hingga $4 juta per unit, sementara drone kamikaze yang dilepaskan Houthi hanya memakan biaya produksi sekitar $15.000 hingga $20.000 per unit dari Teheran.

Menanti Aktivasi "NATO Versi Islam"

Hingga laporan ini diturunkan, baik Pakistan maupun Turkiye belum menurunkan pasukan atau armada tempur mereka secara fisik ke palagan Yaman. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Sajjad Haider Khan, menegaskan bahwa Pakta Makkah bertindak sebagai perjanjian payung strategis, di mana mekanisme kelembagaan dan integrasi komandonya masih dalam tahap pematangan di sekretariat bersama Istanbul.

Namun, situasi ini bisa berubah sewaktu-waktu. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, secara terbuka memberikan peringatan keras bahwa klausul pertahanan kolektif Pakta Makkah memiliki garis merah (red line) yang tegas. Pakistan dan Turki dipastikan akan mengaktifkan opsi militer penuh apabila konflik di Yaman meluap (spillover) berupa agresi teritorial darat langsung atau serangan udara yang melumpuhkan total kedaulatan dalam negeri Arab Saudi.

Kesimpulannya, saat ini, opsi taktis seperti pengerahan skuadron jet tempur Angkatan Udara Pakistan untuk beroperasi dari pangkalan udara Saudi serta pengiriman armada drone tempur canggih (UAV) buatan Turkiye sedang dipertimbangkan secara serius di tingkat komando trilateral. Para analis geopolitik memperingatkan bahwa Islamabad dan Ankara tidak boleh terlalu lama menahan diri pada level kecaman diplomatik. 

Jika Pakta Makkah terkesan pasif melihat wilayah udara Arab Saudi dihujani rudal, fungsi deterensi (pencegahan) dari aliansi baru ini dikhawatirkan akan kehilangan kredibilitasnya di mata global, sementara Iran dan Houthi akan semakin leluasa mendikte stabilitas ekonomi dunia melalui kontrol total atas Selat Bab al-Mandab. (WIB)

Komentar